“Habis ini apalagi yah?” itu pertanyaan
saya setengah kelelahan setelah serangkaian pemeriksaan yang harus saya
lewati. Saya benar-benar kehabisan tenaga karena menunggu berjam-jam,
disuntik berkali-kali karena perawat sulit menemukan aliran yang tepat
hingga berbagai peralatan yang diujikan di tubuh saya untuk memastikan
saya siap menjalani operasi. Jangan tanya berapa lebam di kedua tangan
akibat suntikan berkali-kali itu, karena saya sendiri sudah kebal oleh
rasa sakitnya.
Saya lelah, karena kesekian kalinya Allah
menurunkan penyakit lagi untuk saya. Ya Allah…. belum cukupkah
perubahanku? Belum mampukah Kau memaafkan kesalahan-kesalahanku di masa
lalu? Dan akhirnya muncul pertanyaan itu… Habis ini apalagi yang harus
saya lewati? Berapa banyak lagi operasi yang harus saya jalani? Berapa
banyak ujian lagi yang harus saya tempuh?
Sampai di malam setelah operasi saya
selesai. Seorang Ibu, dirawat di kamar yang sama dengan saya. Ibu Rohani
namanya. Seorang Ibu yang tak lagi muda, tapi begitu gigih berjuang. Ia
mengalami pecah ketuban di usia kehamilan yang baru memasuki bulan
ke-enam. Karena infeksi yang sudah menjalar, maka satu-satunya jalan
adalah melahirkan si jabang bayi. Ibu itupun diinduksi. Di saat
bersamaan saya baru mendapatkan kesadaran penuh setelah dioperasi
sepanjang pagi hingga siang menjelang.
Rasa sakit, membuat si Ibu mengerang
sepanjang malam hingga pagi. Saya benar-benar tak tega mendengarnya
hingga lupa rasa sakit di perut sendiri. Erangannya sungguh mengiris
hati karena berkali-kali memanggil memohon bantuan sang Ilahi dan tak
ada satupun familinya menunggui karena di RS Islam hanya wanita yang
diizinkan menunggu. Saya meminta adik yang menunggui untuk menanyakan
apa yang harus dilakukan, tapi karena adik berpengalaman diinduksi maka
dia bilang lebih baik kami diam saja. Ibu itu memang sesekali diam, dan
tertidur ketika rasa sakitnya hilang tapi kemudian saat kembali lagi
rintihannya benar-benar membuat saya bahkan menitikkan airmata.
Sepanjang malam, saya seakan diingatkan.
Allah memberi saya banyak kenikmatan diantara semua sakit. Setidaknya
anak-anak saya terlahir sehat dan sempurna, setidaknya saya tak pernah
mengalami sakit seperti itu, setidaknya saya selalu ditemani orang-orang
yang mencintai saya, setidaknya saya merasakan nikmat menggendong bayi
setelah sakit luar biasa. Sungguh, malam itu semua terasa diputar ulang
dan mengingatkan Allah itu benar-benar Maha Pemberi Nikmat dan sayangnya
saya lupa menghitungnya, malah menghitung kesulitan yang saya dapatkan.
Pagi hari, ketika keadaan saya jauh lebih
baik. Saya memperoleh berita dari keluarga si Ibu, bahwa mereka
kehilangan si jabang bayi. Padahal usia si Ibu tak lagi muda, sekitar 42
tahun dan baru pertama kali mengandung. Saya bahkan tak bisa
membayangkan jika kehilangan harapan setelah lima bulan memangku mimpi
yang indah. Karena membayangkan perasaan sendiri, hari itu saya melarang
anak-anak menengok saya lama-lama. Dengan alasan ulangan dan kondisi
abang yang kurang sehat, saya meminta anak-anak segera pulang. Saya tak
mau mengingatkan si Ibu kalau ia melihat putra-putri dan keponakan saya
yang super ribut kalau datang.
Karena kondisi fisik saya juga sempat
drop (tensi turun hingga 80/60), saya lebih banyak tidur sepanjang hari
minggu setelah operasi. Suami yang menggantikan adik di siang hari juga
kelelahan, hingga kami sama-sama tertidur hingga tak menyadari ketika
ibu itu masuk setelah selesai persalinan dan telah dikuret.
Malam hari, ketika saya akhirnya… bisa
makan dan minum juga duduk bahkan berjalan, saya membuka pelan-pelan
tirai pemisah ruang untuk membuat si Ibu tak merasa sendirian. Ibu itu
sedang melamun sendirian, dengan berzikir sayup-sayup. Ia tersenyum dan
menyapa saya lebih dulu. Dan kata-kata pertamanya. “Maaf ya mba kalau
kemarin malam saya sudah mengganggu istirahatnya. Saya benar-benar tidak
bisa tidak mengerang karena sakitnya benar-benar… ” dan dia terdiam.
Mimiknya sedih sekali.
Saya benar-benar tersentuh. Ya Allah,
bukannya menceritakan penderitaan yang baru saja dialaminya, ia malah
meminta maaf untuk sesuatu yang harusnya pasti saya pahami.
Kami mulai saling bertukar cerita,
bertukar pengalaman, saya juga meminta maaf karena tak tahu harus
berbuat apa semalam ketika ia merintih kesakitan. Dan ketika ia
mencurahkan isi hatinya, saya lebih banyak terdiam dan merenung. Dia
bilang kehilangan bayinya bukanlah penderitaan, itu adalah ladang
keimanannya. Allah mungkin tak memberinya kesempatan padanya berladang
iman sebagai seorang Ibu, tapi dengan memberinya kesempatan memberi rasa
sakit karena melahirkan, meniupkan nyawa pada bayi itu walaupun hanya
beberapa menit, sudah memberikan banyak pelajaran betapa luasnya ladang
iman yang disediakan Allah untuknya. Dia tersenyum bahagia membayangkan
betapa beruntungnya ia nanti karena kelak almarhumah putrinya menjadi
bidadari kecil yang menolongnya melewati shirothul mustaqim.
Terus terang saya sedikit manja kalau
sedang sakit, tapi melihat kesakitan Ibu itu seakan membuka mata saya
bahwa penderitaan saya seakan tak ada apa-apanya dibandingkan
kesakitannya. Saya juga berhasil memaksa diri bangun untuk sholat sambil
berdiri karena merasa bodoh memanjakan diri untuk sesuatu yang tak ada
bandingannya dengan rasa sakit yang sesungguhnya. Rasa sakit karena
kehilangan. Di antara rasa sakit, saya justru diberi nikmat yang besar.
Saya memiliki keluarga, yang diantara semua kesibukan mereka segera
menengok dan bergantian menjaga. Bahkan adik iparpun yang hampir
berangkat ke luar negeri untuk bekerja, menyempatkan diri menjenguk saya
dulu. Seluruh keluarga yang menyebar berkumpul di ruang rawat saya,
halaman facebook penuh dengan ucapan doa dari sahabat dan kawan, dan
telepon genggam penuh dengan doa keselamatan agar saya cepat sehat lagi.
Saya benar-benar kaya, sangat kaya dibandingkan Ibu yang hanya memiliki
satu harapan yang itupun direnggut darinya.
Dan subuh tanggal 11 Juni 2012, saya
bersujud, menangis karena bahagia. Berterimakasih karena hanya diberi
penyakit. Mungkin ini cara Allah meringankan beban dosa-dosa saya,
mungkin inilah ladang iman saya yang sesungguhnya, belajar tentang
penderitaan dan tidak melupakan kenikmatan yang selama ini diberikan
untuk saya. Seharusnya saya bersyukur, terus bersyukur karena penyakit
ini justru membuat saya tahu betapa berartinya hidup saya. Saat menonton
DVD operasi saya, saya berkali-kali mengucap syukur karena lahir di
zaman canggih hingga bisa memiliki harapan hidup yang lebih tinggi. Saya
sekarang adalah saya yang dulu, namun sekali lagi belajar tentang arti
hidup lebih baik. Saya ingin terus menghitung nikmat, berbagi nikmat dan
berbuat lebih baik.
Kematian adalah rahasia Allah, singkat,
cepat atau lambat bukanlah hal penting. Tapi bagaimana membuat agar apa
yang kita jalani, adalah berguna untuk orang lain…..
&&&&&&

Tidak ada komentar:
Posting Komentar