Sekelebat sinar matahari menyeruak masuk
dari balik tirai jendela kamar, tanpa sengaja sinar itu jatuh tepat di
wajahmu. Matamu , dan akhirnya membangunkanmu dari tidur
yang lelap. Sekonyong-konyong dengan langkah cepat, aku meraih tali
tirai untuk menutupnya lebih rapat.
“Jangan, Mas!” pintamu menghentikan
gerakanku. “Biarkan saja cahayanya masuk. Sudah lama kamar ini terasa
suram. Atih rindu lihat sinarnya,” ujarmu sambil berusaha bangun dan
duduk.
Aku melepaskan tali tirai dan segera
membantumu duduk. Tubuhmu sedikit gemetar saat aku memegangi bahumu. Ya
Allah, semakin lama kau semakin kurus saja. Tak tega rasanya melihat
perempuan yang pernah begitu tegar mendampingiku, kini harus menderita
seperti ini. Meski tak pernah kudengar sekalipun kau mengeluhkan sakit,
tapi perubahan drastis di tubuhmu benar-benar telah cukup menggambarkan
semuanya. Aku bahkan bisa merasakan deritamu, melewati hari demi hari
tergerus oleh kanker hati sejak dua tahun lalu.
“Ngelihatin Atih kayak gitu bikin Atih malu aja.”
Aku tersipu. “Istriku memang cantik banget hari ini. Selalu cantik setiap hari.” Seulas senyum tergores di bibirmu yang membiru.
Hatiku tercekat menatap wajah pucatmu
yang berusaha ceria. Kepala yang sudah licin plontos itu memang tertutup
topi, namun mata yang sayu dan tubuh yang ringkih itu tak bisa ditutupi
dengan senyum bahagiamu. Pilu rasa hatiku melihat kecantikanmu semakin
lama semakin memudar karena penyakit mematikan itu
“Makan dulu, sayang,” bujukku pelan saat
melihat piring berisi bubur di samping tempat tidur. Keraguan tergambar
jelas di wajahmu saat ikut menatap piring itu. Aku tahu apa yang kau
rasakan dan perasaan yang sama juga terbit di hatiku. Namun aku berdoa
semoga hari ini tidak terjadi lagi. Sudah beberapa hari ini sejak
kemoterapi terakhir, kau hampir tak makan apa-apa hingga aku
hampir-hampir tak bisa menyembunyikan ketakutanku.
Tapi doaku tak terkabul. Meski aku tahu
kau ingin menghabiskannya, tapi baru sendok yang masuk ke mulutmu
semuanya sudah kau muntahkan lagi. Sungguh tak sanggup rasanya melihat
istri yang kusayangi harus berkali-kali menunduk menghadap ember kecil
itu. Segera kujauhkan piring itu darinya. Aku benar-benar tak tega
melihatnya sampai hampir kehabisan tenaga karena terus menerus menahan
mual.
“Ma..maafin Atih, mas. Maaf,” bisikmu lemah diantara nafas yang tersengal-sengal.
Aku tak bisa menjawabnya selain mengangguk-angguk dan membereskan tempat tidur.
“Sudah, sudah, kamu tiduran saja ya
sayang. Mungkin itu lebih baik. Mau air hangat?” kau mengangguk lemah,
secepat aku bisa kusodorkan gelas berisi air hangat itu. Kau meminumnya
sedikit sekali, tapi kulihat kelegaan di wajah pucatmu. Kau berbaring
dan aku mulai merasa bersalah. Seandainya tadi tak kupaksa makan.
Sebuah buku yang selalu kubacakan untukmu
segera kuambil. Seperti biasa, inilah pengisi waktuku saat
mendampingimu di rumah sakit. Membaca buku-buku yang dulu tak pernah
sempat kau baca karena sibuk mengurus keluarga. Satu-satunya hal yang
bisa kulakukan untukmu, kekasih hatiku.
“Mataharinya tak lagi terlalu terik ya mas. Barangkali mau hujan.”
Aku menoleh ke jendela dan mengangguk. “Iya, soalnya mau musim hujan.”
Tatapanmu berpindah padaku.”Maafin Atih
sudah membuat Mas repot ya. Atih sudah membuat Mas harus mengurusi Atih
di usia senja seperti sekarang. Atih gak pernah melayani Mas seperti
istri normal. Atih gak pernah memberi Mas kebahagiaan. Maaf ya Mas.
Sungguh sungguh Atih minta maaf.”
Kata-katamu yang pelan itu bagai suara
petir di siang bolong. Kucari-cari apa maksudmu berkata seperti itu
dengan menatapmu tajam, tapi kau malah tersenyum hangat.
“Kamu ini ngomong apa toh, Tih? Buat apa
minta maaf? Saya yang justru minta maaf karena gak bisa mencarikanmu
dokter terbaik supaya bisa lepas dari penderitaanmu ini,” tukasku lalu
aku mengacungkan buku. “Kemarin sampai di mana bacaan kita ya?” tanyaku
sambil berpura-pura sibuk membolak-balik lembaran buku, mengalihkan
pembicaraan.
“Mas.” Tanganmu kembali menghentikan
gerakanku. Mata indahmu kini terlihat menyimpan kesedihan. “Mas harus
maafin Atih dulu, Atih sudah jadi istri yang selalu membuat Mas
menderita, membuat Mas harus kerepotan. Harusnya kan kita sedang
menikmati masa pensiun yang indah, nengok anak dan cucu-cucu kita.
Seharusnya kita jalan-jalan ke pantai, traveling keliling tempat-tempat
yang dulu tak sempat kita datangi dan menikmati sinar matahari itu
sambil bergandengan tangan seperti yang dulu sering kita khayalkan.”
Sungguh, aku benci kalau kau mulai
berkata seperti ini. Aku tak suka mendengar kau mengulang-ulang sesuatu
yang tak bisa kuberikan. Kau selalu mengingatkanku bahwa aku belum
sempat memberimu semua itu. Belum sempat mewujudkan mimpi-mimpimu yang
dulu selalu saja batal karena berbagai sebab. Entah berapa kali kita
akhirnya menghabiskan waktu hanya dengan berkhayal dan tertawa-tawa
miris berdua. Impian yang tak pernah terwujud karena kebutuhan yang
terlalu banyak saat itu.
“Harusnya saya yang minta maaf, Tih. Saya
yang tak pernah memberimu apa-apa. Dulu saya ingin ke tempat itu karena
kamu ingin pergi ke sana. Dulu saya ingin melakukannya karena kamu
menginginkannya. Jadi seharusnya saya yang meminta maaf karena belum
sempat mewujudkannya. Tapi saya janji, kalau kau sehat lagi kita akan
melakukan semuanya… semuanya berdua.” Aku mendengar getaran di suaraku
sendiri. Tidak, aku tidak boleh menangis di hadapanmu.
Senyummu membayang di sudut pipi yang
tirus. “Mas sudah memberikan banyak hal buat Atih. Atih bisa bertemu
Mas, mencintai Mas, menikah dan memiliki anak-anak yang baik sudah
merupakan hal terbaik buat Atih. Atih sangat bahagia. Mas seperti
matahari Atih, matahari yang selalu menyinari kemanapun Atih pergi. Tak
ada seharipun Atih menyesali hidup bersama Mas. Atih benar-benar
bahagia. Kalaupun Atih menyesal, itu karena Atih tak bisa melakukan hal
yang sama buat Mas. Kalau Allah memberi kesempatan buat Atih, ingin
rasanya Atih tetap berbakti pada mas.”
Dadaku terasa sesak. Mataku mulai
berkaca-kaca. “Mas mau ke toilet dulu sebentar.” Hanya itu yang bisa
kulakukan. Berlari ke toilet, melepas emosiku sendiri.
Airmata yang tadi kutahan langsung jatuh
deras begitu aku masuk toilet. Aku membuka kran air dan menutup mulutku
dengan handuk agar suaraku tak terdengar olehmu.
Kekasihku, istriku, cintaku, Ratih.
Seandainya kau tahu. Setiap hari sejak kau sakit, aku menyesal bukan
kepalang. Bukan karena aku harus mengurusmu, bukan karena aku harus
mengeluarkan hampir separuh harta untuk kesembuhanmu. Bukan itu,
istriku. Sungguh bukan itu. Aku menyesal karena tak pernah memperhatikan
kesehatanmu, aku menyesal karena tak pernah menyadari kalau sekuat
apapun dirimu tetaplah seorang manusia. Aku menyesal tak sempat
mewujudkan banyak hal untukmu. Aku menyesal, aku terlambat menyadari
kalau kau telah memberiku banyak tapi aku bahkan tak pernah memberimu
kebahagiaan sebenarnya. Kalau seandainya diberi kesempatan kedua, aku
ingin sekali menjadikanmu istri paling bahagia di muka bumi ini. Akan
kulakukan apa saja yang kau mau agar kau bahagia. Akan kubawa kau ke
tempat paling indah di dunia ini dan akan kuberikan apapun yang kau mau,
asal satu hal saja. Asal kau bisa sembuh dan kembali padaku seperti
dulu. Sehat walafiat, memberi keluarga kita sinarmu yang cemerlang
seperti dulu.
Janganlah kau pernah berpikir kalau aku
menderita karena mengurusmu, sayang. Buatku, setiap kali bangun dan
melihatmu tersenyum sudah cukup. Inilah tujuanku saat mataku terbuka di
pagi hari. Tak ada tujuan lagi dalam hidupku selain bisa mengurusmu dan
membuatmu bahagia. Aku tetap yakin kau sembuh meski dokter sudah
berkali-kali menggelengkan kepala. Kalau kau tiada, aku malah tak tahu
harus bagaimana menghadapi hari esok. Apalagi yang kupunya selain
dirimu? Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kau di sisiku, belahan jiwaku?
Apa tujuan hidupku jika kau tak ada? Aku takut membayangkan hidup tanpa
dirimu lagi. Sungguh aku benar-benar takut.
Dan itu benar-benar terjadi beberapa hari
kemudian. Ketakutanku menjadi kenyataan. Kau tak terbangun lagi. Matamu
terpejam rapat meski berkali-kali kubangunkan, bahkan ketika tim dokter
memeriksa keadaanmu. Tubuhku seakan lunglai ketika dokter bilang kau
berada di ambang batas antara kematian dan kehidupan. Koma. Kata-kata
itu membuatku menangis di depan anak-anak kita. Kekuatanku pergi
seketika saat mendengarnya. Aku lemah tanpamu, sayang.
“Ayah, ayah. Ikhlaskan Bunda, Ayah!
Biarkan bunda pergi, Ayah. Ikhlaskan dia. Bunda sudah menderita begitu
lama. Biarkan dia istirahat dengan tenang,” kata Bimo, putra kita yang
terkecil. Ia berkata seperti itu, tapi airmata juga terus menetes dari
matanya.
Aku tak bisa. Aku tak mau. Sungguh aku
tak bisa hidup tanpamu. Tapi Bimo memelukku, memberiku kekuatan. Elsa
dan Rima juga ikut memelukku dan mereka memohon padaku dengan isak
tertahan. Hati mereka sudah terlalu pedih melihat kau menderita hingga
rela melepas kepergianmu, rela kehilangan dirimu. Bagiku, melepasmu sama
saja membuang separuh jiwaku. Membiarkanmu pergi berarti membawa
sebagian hatiku terbang. Namun, aku juga tak tega melihatmu terus
menerus berusaha bertahan dalam sakit yang panjang. Seandainya saja
semua derita itu bisa kugantikan.
Akhirnya, dengan langkah paling berat
yang pernah kujalani, aku menunduk di sisi tempat tidurmu dan berbisik
lembut di telingamu. Kubelai wajah cantik yang telah mulai berhias
keriput itu untuk yang terakhir kalinya. “Pergilah, sayang. Jika kau
ingin terlepas dari derita ini, pergilah dan beristirahatlah dengan
tenang di sisiNya. Tunggu aku di sana, ya sayang. Aku ikhlas…
benar-benar ikhlas melepasmu. Asyhadu alla ilaaha illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”
Dan aku kembali menangis saat setetes airmata jatuh dari matamu yang
terpejam rapat. Aku memelukmu lama sekali dan kaupun pergi dalam pelukan
terakhirku.
Senja itu, saat matahari terbenam kau
menghembuskan nafas yang terakhir. Mentari lain yang juga menyinariku
selama ini telah pergi bersama datangnya senja itu, ia meninggalkanku.
Mentari yang menyinariku selama ini, memberiku kekuatan menghadapi semua
tantangan hidup dan mentari yang selalu mendampingiku dengan setia
selama separuh hidupku telah tiada.
Terima kasih istriku, untuk semua yang
kau berikan padaku. Kau memberiku banyak hal, pelajaran penting tentang
kehidupan dan semua hal terindah selama ini. Jika kau tak sakit, aku tak
yakin menyadari betapa pentingnya arti dirimu bagiku. Jika kita tak
pernah menghabiskan waktu di dalam kamar rumah sakit berbulan-bulan,
mungkin aku takkan pernah bisa mengobrolkan banyak hal denganmu. Jika
kita tak bersama di hari-hari terakhirmu, aku mungkin akan menyesalinya
sepanjang hidupku. Paling tidak, karena sakitmu Allah telah memberiku
kesempatan mengabdikan diri sebagai seorang suami yang sesungguhnya. Kau
sudah memberiku banyak hal sepanjang pernikahan kita, cinta yang
melimpah, kehidupan yang damai, kebahagiaan dan pengertian tiada
habisnya, kenyamanan bahkan hingga matamu tak lagi bisa kau buka, kau
tetap memberiku banyak kenangan yang takkan pernah kulupakan. Terlalu
banyak, hingga pengabdianku tiada artinya dibandingkan semua itu. Kau
tinggalkan aku bersama anak-anak dan cucu-cucu kita, keluarga yang
menemaniku dalam sepi panjang setelah kepergianmu. Berat tapi harus
kujalani agar kau tahu betapa berartinya semua yang kau tinggalkan
padaku. Akan kujaga mereka semua walaupun tanpa kehadiranmu. Namun bagi
kami, kau tetaplah sang Mentari hati. Mentari yang pergi kala senja.
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar