Assalamua'laikum warahmatullahi wabarakaatuh...
Dua bulan yang lalu aku mendapat kabar membahagiakan dari adik laki-lakiku, bahwa keluarga kecil kami sudah kehadiaran satu anggota baru dari kelahiran pertama salah satu adik perempuanku yang telah menikah setahun yang lalu. rasa bahagiaku bercampur cemas, karna adikku memberi kabar bahwa proses kelahirannya terjadi di Rumah sakit. dimana Rumah sakit adalah hal tabu dan menakutkan bagi keluarga kami, karena memang jika bukan karena sakit yang begitu parah, kami tak mau jadi penghuninya...hihihi *** trauma... Alhamdullah rasa cemasku sedikit hilang saat mendengar kabar bahwa adikku baik-baik saja dan melahirkan bayi pertama dengan jenis kelamin laki-laki...
Rasa bahagia dan penasaranku untuk segera menjenguk mereka sedikit aku tunda, karna memang urusan pekerjaanku yang belum selesai dan waktu libur yang sudah terlewatkan, karena hari kelahiran keponakanku tepat di hari minggu sore. jadi tak ada waktu lagi untukku yang harus mengghadapi hari yang melelahkan yaitu hari senin. terpaksa aku tunda rasa kangenku untuk minggu depan.
Setelah sekitar lima hari aku manahan rasa bahagia dan kangenku, akhirnya jum'at sorenya aku baru bisa memutuskan untuk berangkat menemui mereka menuju kampung halamannku di Tasikmalaya. hehe^^ .. perjalanan pun aku rasa begitu lama, karna sepanjang jalan aku sudah bisa membayangkan kehangatan dan kedamaian keluargaku apabila kami sudah berkumpul. padahal jarak antara Bandung dan Tasik hanya butuh waktu kurang lebih tiga jam saja bila di tempuh dengan kendaraaan pribadi.
Sekitar jam setengah sembilan malam aku pun tiba di desaku *KalGir*. Alhamdullah perjalananku pulang pun begitu lancar sehinngga aku bisa sampai tepat waktu. aku sengaja mmperlambat langkahku ketika aku tiba tepat di depan rumahku. sesaat aku mencoba mendengarkan suasana obrolan dari dalam rumah. suara yang paling dominan terdengar adalah suara Ibuku yang lagi menceritakan pengalaman bahagianya kepada sanak saudara menjadi nenek baru.
Setelah puas mendengar obrolan dari luar, tanpa mengetuk pintu aku pun langsung mengucapkan salam dengan sedikit lantang. hehe.. seketika Obrolan pun terhenti, lalu terdengar jawaban salamku dari seisi rumah dengan kompak. rasa capeku hilang begitu saja saat aku membuka pintu dan melihat orang-orang seisi rumah. sungguh tak sedikt pun aku lihat wajah yang menyuramkan pada saat itu, melainkan raut muka penuh bahagia yang terpancar dari mereka yang langsung kemudian dengat hangat menyapaku dan aku pun menyalami mereka.
Setelah itu, hadirnya aku yang tak tau apa-apa alias terima beres obrolan pun kembali berlanjut semakin seru dengan ditemani limpahan makanan kecil, candaan dan tawaan khas keluarga kami. semakin menambah hangat suasana malam itu. karna aku tak tau apa-apa, layaknya wartawan gadungan aku mulai bertanya A sampai Z kepada mereka tentang awal mula proses kelahiran sampai meraih kebahagiaan seperti malam itu. ternyata dari kesimpulan obrolan kami, Ibuku lah yang menjadi aktor semuanya. walau sempat diwarnai kecemasan sampai kebahagiaan itu bisa kami rasakan.
Esok harinya tepat dihari ulang tahunku dan syukuran aqiqah keponakanku, kembali aku dibuat kagum dan bangga oleh Ibuku yang gak kenal lelah ini. baru saja beliau selesai menyajikan sarapan pagi untuk kami, Ibuku langsung menghampiri cucu barunya untuk merawat dan memandikan cucu barunya itu. aku tau Ibuku belum sempat sarapan bersama kami. aku pun hanya bisa bengong melihat tangan lembut beliau saat memendikan cucunya yang masih merah itu dengan telaten. sambil sesekali beliau berkata untuk mengajari aku dan adik perempuanku yang masih terbaring lemah karna proses kelahiran yang sangat melelahkan.
Sungguh aku tak bisa banyak berbuat apa-apa saat itu, karena masih segar diingatanku saat tujuh tahun yang lalu aku melihat hal yang sama ketika adikku yang paling kecil *Amtsal* terlahir, beliau melakukan hal yang serupa. belum lagi keenam kakanya termasuk aku yang beliau perlakukan sama seperti yang aku lihat pada waktu itu. sungguh kasih sayang dan perjuangan yang tanpa batas dan pamrih dari beliau kepada kami, belum lagi sifat sabar dan ikhlas beliau yang telah rela membesarkan kami yang hanya membuat jengkel beliau di sepangjang hidup kami sampai sekarang ini.
Sambil bengong dan terharu melihat perjuangan ibuku pada saat itu, aku hanya bisa bertanya pada hatiku sendiri :
- Kapan engkau lelah untuk menyayangi kami wahai Ibuku..?? sungguh kami tak sanggup untuk menghitung jasamu. bahkan untuk membalas setitik dari limpahan kasih sayangmu pun kami masih belum bisa Bu.
- berapa besar kesabaran dan keikhlasanmu saat merawat dan membesarkan kami..? sungguh kami tak sanggup untuk mengukurnya. bahkan untuk berhenti membuatmu jengkel saja kami masih belum sanggup Bu.
- berapa ribu tetes keringat dan air mata yang kau keluarkan untuk mengurus dan membahagiakan kami bu..?? sedangkan kami hanya bisa tau lelahnya , dan belum bisa membuatmu bangga dan bahagia atas perjuangan dan kerja kerasmu selama ini Bu.
- Berapa ribu Doa dan Air mata yang engkau panjatkat di setiap malammu demi kebahagiaan kami Bu..?? padahal ibu tau kami yang engkau doakan sedang tertidur pulas, tanpa sedikitpun mengingatmu bahkan mendoakanmu Bu.
- sampai kapan Hati dan Otakmu berhenti untuk berfikir demi kebahagiaan kami Bu.? sedangkan kami, sedikit pun kami tak pernah bertanya tentang bagaimana kabarmu. bahkan kami hanya memikirkan diri kami sendiri.
Sungguh kami sangat bangga kepadamu, biarlah perjuanganmu menjadi Inspirasi bagi kami dalam menghadapi kehidupan kami yang sesungguhnya, biarlah kebanggaan kami terhadapmu menjadi motivasi bagi kami untuk melangkah ke jalan yang lebih baik. jalan yang Alloh ridhoi dan jalan yang selama ini engkau nasihatkan tanpa henti kepada kami. biarlah semangatmu menjadi Ruh bagi kami agar bisa melanjutkan perjuanganmu sebagai Orang tua yang berhasil menjaga AmanahNya dan membanggakan putera-puterinya.
Kami hanya bisa menyampaikan TERIMA KASIH BANYAK buat Ibuku, Ibuku, Ibuku dan Ayahku juga keluarga. Kami tak bisa membayangkan bagaimana keadaan kami jika tanpa kasih sayang kalian semua..
* salam sayang dari kami,
putera-puterimu


superr
BalasHapus